-

Penggolongan Produk Kayu di Pasaran

TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN DENGAN KONSTRUKSI KAYU 
  Sifat Kayu sebagai Material Konstruksi  


Saat ini produk kayu sangat beragam. Produk kayu solid/asli umumnya berupa kayu gergajian baik berupa balok maupun papan. Sedangkan produk kayu buatan dapat merupa vinir (veneer), papan lapis, triplek/plywood/multiplek dan bahkan kayu laminasi (glue laminated timber).

8.2.1. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia

Secara singkat peraturan ini dimaksukan untuk memberikan acuan baku terkait dengan aturan umum, aturan pemeriksaan dan mutu, aturan perhitungan, sambungan dan alat sambung konstruksi kayu hingga tahap pendirian bangunan dan persyaratannya. Pada buku tersebut juga telah dicantumkan jenis dan nama kayu Indonesia, indeks sifat kayu dan klasifikasinya, kekuatan dan keawetannya.

8.2.2. Klasifikasi Produk Kayu

Penggolongan kayu dapat ditinjau dari aspek fisik, mekanik dan keawetan. Secara fisik terdapat klasifikasi kayu lunak dan kayu keras. Kayu keras biasanya memiliki berat satuan (berat jenis) lebih tinggi dari kayu lunak. Klasifikasi fisik lain adalah terkait dengan kelurusan dan mutu muka kayu. Terdapat mutu kayu di perdagangan A, B dan C yang merupakan penggolongan kayu secara visual terkait dengan kualitas muka (cacat atau tidak) arah-pola serat dan kelurusan batang. Kadang klasifikasi ini menerangkan kadar air dari produk kayu.

Kayu mutu A

− Kering udara ˂ 15 %
− Besar mata kayu maksimum 1/6 lebar kecil tampang / 3,5 cm
− Tak boleh mengandung kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok
− Miring arah serat maksimum adalah 1/7
− Retak arah radial maksimum 1/3 tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/4 tebal kayu

Kayu mutu B

− Kering udara 15%-30%
− Besar mata kayu maksimum 1/4 lebar kecil tampang / 5 cm
− Tak boleh mengandung kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok
− Miring arah serat maksimum adalah 1/10
− Retak arah radial maksimum ¼ tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/5 tebal kayu

Konsekuensi dari kelas visual B harus memperhitungkan reduksi kekuatan dari mutu A dengan faktor pengali sebesar 0.75 (PKKI, 1961, pasal 5).

8.2.3. Kelas Kuat Kayu

Sebagaimana di kemukakan pada sifat umum kayu, kayu akan lebih kuat jika menerima beban sejajar dengan arah serat dari pada menerima beban tegak lurus serat. Ini karena struktur serat kayu yang berlubang. Semakin rapat serat, kayu umumnya memiliki kekuatan yang lebih dari kayu dengan serat tidak rapat. Kerapatan ini umumnya ditandai dengan berat kayu persatuan volume / berat jenis kayu. Ilustrasi arah kekuatan kayu dapat ditunjukkan pada Gambar Arah serat dan kekuatan kayu terhadap tekan dan tarik dan Gambar Arah serat dan kekuatan kayu terhadap lentur dan geser.

Gambar Arah serat dan kekuatan kayu terhadap tekan dan tarik
Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999
Gambar Arah serat dan kekuatan kayu terhadap lentur dan geser
Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999


Angka kekuatan kayu dinyatakan dapan besaran tegangan, gaya yang dapat diterima per satuan luas. Terhadap arah serat, terdapat kekuatan kayu sejajar (//) serat dan kekuatan kayu tegak lurus (⊥) serat yang masing- masing memilki besaran yang berbeda. Terdapat pula dua macam besaran tegangan kayu, tegangan absolute / uji lab dan tegangan ijin untuk perancangan konstruksi. Tegangan ijin tersebut telah memperhitungkan angka keamanan sebesar 5-10. Dalam buku Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI-NI-5) tahun 1961, kayu di Indonesia diklasifikasikan ke dalam klas kuat I (yang paling kuat), II, III, IV (paling lemah). Tabel Kelas Kuat Kayu, menunjukkan kelas berat jenis kayu dan besaran kuat kayu.

Tabel Kelas Kuat Kayu
Sumber: PKKI, 1979

Tekan-Tarik // Serat Kg/cm2 Tarik l Serat Kg/cm2 Kuat Lentur Kelas Kg/cm2 Kuat Berat Jenis Absolut Ijin Absolut Ijin Absolut Ijin I > 0.900 > 650 130 20 > 1100 150 II 0.60-0.90 425-650 85 12 725-1100 100 III 0.40-0.60 300-425 60 8 500-725 75 IV 0.30-0.40 215-300 45 5 360-500 50 V ˂ 0.300 ˂ 215 - - ˂ 360 -

8.2.4. Kelas Awet

Berdasarkan pemakaian, kondisinya dan perlakuannya, kayu dibedakan atas kelas awet I (yang paling awet) – V (yang paling tidak awet). Kondisi kayu dimaksud adalah lingkungan/tempat kayu digunakan sebagai batang struktur. Sedangkan perlakuan meliputi pelapisan/tindakan lain agar kayu terhindar/terlindungi dari kadar air dan ancaman serangga. Tabel kelas awet dan kondisinya dapat dikemukakan dalam Tabel Kelas Awet Kayu.

Tabel Kelas Awet Kayu
Sumber: PKKI, 1979


Kondisi konstruksi Kelas Awet / Umur Konstruksi
I II III IV V

1. Berhubungan dengan tanah lembab 8 5 3 Pendek Pendek

2. Terbuka namun terlindung dari matahari dan hujan 20 15 10 Pendek Pendek

3. Terlindung dari udara bebas tapi tak di coating Tak terbatas Tak terbatas Cukup lama Pendek Pendek

4. Terlindung dari udara bebas dan dipelihara/dicoating Tak terbatas Tak terbatas Tak terbatas 20 tahun 20 tahun

5. Diserang hama/rayap Tidak Jarang Agak Cepat Cepat Cepat


Sistem Struktur dan Sambungan dalam Konstruksi Kayu 

Selengkapnya: TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN


Komentar